Salah Kaprah Dalam Kesehatan Jiwa

Salah Kaprah Dalam Kesehatan Jiwa


Banyak sekali terjadi salah kaprah dalam masyarakat Indonesia berkaitan dengan kesehatan jiwa. Pengetahuan yang minim tentang kesehatan jiwa membuat masyarakat mempunyai asumsi tersendiri tentang kesehatan jiwa yang belum tentu benar. Berikut akan kita bahas beberapa hal tentang salah kaprah tentang masalah kejiwaan yang berkembang dalam masyarakat kita.

Sakit Jiwa dan Penyakit Syaraf.

Sakit jiwa sering artikan sebagai penyakit syaraf, hal ini tidak salah  100% karena penyakit jiwa bisa juga disebabkan oleh kerusakan syaraf dalam tubuh penderita. Yang menjadi persoalan adalah rujukan pengobatan sakit jiwa seharusnya bukan ke dokter spesialis syaraf, melainkan ke dokter jiwa /psikiater atau psikolog klinis. Dokter spesialis syaraf biasanya hanya mengobati hal hal yang berkaitan dengan fungsi syaraf seperti penyakit parkinson, stroke, kelainan syaraf dsb. Dokter spesialis syaraf tidak menyentuh masalah psikologi pasien, pengobatan biasanya dilakukan dengan memakai obat. Berbeda dengan psikiater atau dokter spesialis jiwa yang bisa memberikan pengobatan medis sekaligus konsultasi psikologi. Psikolog klinis bisa memberikan bimbingan konseling yang dapat membantu persoalan kesehatan jiwa psikologi pasien dan keluarganya.

Kesehatan Jiwa Masyarakat

Masyarakat sering kali merasa heran kenapa seseorang bisa mengalami gangguan kesehatan jiwa padahal tidak ada keluarga mereka yang pernah mengalaminya. Sakit jiwa sebenarnya sama dengan sakit fisik. Manusia terdiri dari tubuh fisik dan tubuh jiwa, fisik adalah hal yang terlihat dan bisa diraba sedangkan jiwa tidak terlihat tapi bisa dirasakan.

Fisik bisa sakit akibat infeksi kuman dan daya tahan tubuh yang lemah. Ada orang yang daya tahan tubuhnya kuat ada juga yang daya tahan tubuhnya tidak kuat sehingga mudah sakit  Demikian juga dengan jiwa, ada orang yang daya tahan jiwanya sangat kuat, ada juga yang daya tahan jiwanya rentan sehingga gampang stress, gampang tertekan dan rentan sakit jiwa.

Sakit fisik ada yang ringan seperti flu, masuk angin, batuk dsb dan ada yang berat  seperti stroke, kanker dsb. Demikian juga dengan sakit jiwa ada yang ringan seperti stress, sering marah marah dsb. Dan aja juga yang berat seperti Bipolar atau bahkan  schizophrenia

Baca Juga: Kepribadian Manusia Menurut Psikologi| Mengenal Kepribadian Manusia

Sakit Jiwa Akibat Gangguan Roh Halus

Masih banyak anggapan masyarakat bahwa sakit jiwa terjadi akibat gangguan roh halus, sehingga pengobatan biasanya dilakukan dengan memakai metoda paranormal. Akibat pengobatan yang tidak tepat, bisa berakibat makin parah dan berlanjut pada masalah kejiwaan yang makin sulit disembuhkan.

Gejala halusinasi, waham, atau melihat hal hal gaib biasanya dialami oleh penderita sakit jiwa berat, hal ini perlu dipahami sejak awal oleh keluarga penderita. Keluarga harus bijak memilah gejala awal sakit jiwa atau kemampuan spiritual melihat hal gaib yang masih kental dalam budaya masyarakat.

Sakit Jiwa Bisa Sembuh Dengan Sendirinya

Masih ada anggapan bahwa sakit jiwa bisa sembuh dengan sendirinya sehingga tidak perlu dilakukan pengobatan. Hal ini adalah salah dan sangat berbahaya. Seseorang yang menderita masalah mental pada umumnya tidak menyadari penyakitnya, tetapi orang disekitarnya yang merasakan dampaknya. Penyakit jiwa parah tidak bisa sembuh dengan sendirinya, yang terjadi justru akan semakin parah.

Sakit Jiwa Adalah Penyakit Keturunan.

Anggapan bahwa penyakit jiwa adalah penyakit keturunan sehingga tidak bisa diobati adalah tidak benar. Menurut penelitian ahli jiwa, memang ada kecenderungan genetika dalam penyakit jiwa, akan tetapi bukan berarti karena itu tidak bisa diobati. Penyakit jiwa dalam tahap awal lebih mudah diobati dan diatasi. Menganggap sakit jiwa karena kutukan keturunan sehingga tidak melakukan pengobatan justru akan mengakibatan penyakit bertambah parah dan tidak bisa diobati.

Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Memahami Penderita Sakit Jiwa