Perilaku Seksual Normal dan Abnormal

Perilaku Seksual Normal dan Abnormal


Batasan perilaku seksual normal dan abnormal

Batasan perilaku seksual normal dan abnormal sangat tergantung pada budaya masyarakat setempat. Penghuni Inis Beag, pulau kecil di seberang pantai Irlandia, mempunyai pandangan bahwa wanita normal tidak akan mencapai orgasme dan wanita yang mencapai orgasme mempunyai perilaku seksual menyimpang. Disana seks pranikah tidak dikenal. Wanita melakukan hubungan seksual dalam rangkat mendapatkan anak dan menenangkan dorongan nafsu suami mereka. Mereka juga tidak perlu kuatir diminta melakukannya sering kali, karena para pria  disana mempunyai keyakinan bahwa seks akan melemahkan kekuatan mereka. Hubungan badan dilakukan di tempat gelap, secara harfiah dan kiasan, serta dengan tetap  mengenakan pakaian mereka.  Mereka konsiten dengan standar lokal dan maskulinitas, pria berejakulasi secepat mungkin, kemudian tidur dan tidak memperdulikan kepuasan pasangan mereka. Namun kaum wanita juga tidak mengeluh, karena mereka mengembangkan  kepercayaan bahwa tidak lazim bagi wanita untuk mengalami kepuasan seksual.

Kasus sebaliknya terjadi di Mangaia, salah satu pulau di Polinesia.  Disana sejak masa kanak kanak,  anak Mangaia diharapkan mengeksplorasi seksualitas mereka melalui masturbasi. Remaja Mangaia didorong oleh tetua mereka untuk melakukan hubungan seksual. Mereka aktif melatih ketrampilan yang diperoleh dari para tetua mereka. Wanita Mangaia biasanya mencapai orgasme beberapa kali sebelum pasangan mereka. Pria muda berlomba untuk melihat siapa yang lebih trampil dalam membantu pasangan mereka mencapai orgasme berkali kali.

Masyarakat di kedua tempat itu mempunyai ciri anatomi yang sama, manusia normal secara fisik. Namun sikap dan nilai budaya mereka tentang perilaku seksual normal dan abnormal sangat berbeda jauh. SIkap ini mempengaruhi perilaku seksual mereka dan kepuasan yang mereka capai atau yang tidak mereka capai dari aktivitas seksual.

Dalam perilaku seksual, seperti juga dalam perilaku lain, batasan perilaku seksual normal dan abnormal tidak selalu jelas. Seks seperti halnya makan adalah fungsi yang alamiah. Namun fungsi alamiah ini  sangat dipengaruhi oleh kebiasaan, cerita rakyat, budaya, takhayul, agama dan keyakinan moral.
Perilaku seksual yang dianggap menyimpang dalam kultur masyarakat tertentu bisa dianggap normal dalam kultur budaya masyarakat yang lain.

Sikap Terhadap Homoseksual

Seperti halnya sikap masyarakat terhadap Homoseksual sangat bervariasi dari satu budaya ke budaya lain dari waktu ke waktu. Dalam masyarakat Amerika Serikat dulu homoseksual dianggap sebagai bentuk penyakit mental, namun pada tahun 1973 American Psychiatric Association memutuskan untuk menghilangkan homoseksual dari daftar gangguan mental.  Walaupun homoseksual dianggap bukan lagi sebagai gangguan mental tetapi lesbian dan gay terus menjadi target pembunuhan, permusuhan,  ketakutan serta prasangka yang ekstreem.
Kasus LGBT ( Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) yang ramai dibicarakan  dan menjadi polemik dalam masyarakat Indonesia menunjukkan batas yang tidak jelas dalam perilaku seksual normal dan abnormal. Masyarakat Indonesia yang masih kuat memegang adat budaya dan agama pastinya akan menolak pengesahan kaum LGBT sebagai bagian dari perilaku normal. Meskipun ada pula kemungkinan dengan berjalannya waktu dan perubahan budaya masyarakat bisa menerima kehadiran LGBT sebagai bagian masyarakat normal.
Akan tetapi meskipun terjadi penolakan terhadap pengesahan LGBT sebagai bagian masyarakat normal, masyarakat Indonesia bisa menerima kehadiran seseorang dengan gaya banci dalam dunia hiburan televisi, serta tidak menjadikan kaum LGBT sebagai sasaran kebencian dan pembunuhan.
Perilaku seksual normal dapat dianggap abnormal jika hal tersebut bersifat self defeating, menyimpang dari normal sosial, menyakiti orang lain, menyebabkan distres personal, atau mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi secara normal. Gangguan seksual seperti identitas gender, parafilia dan disfungsi seksual mempunyai satu atau lebih dari kriteria abnormalitas.